Senin, 11 Oktober 2010

Energy to Energize

Kembali melalui perjalanan Jakarta-Aceh utk memotivasi kelompok perempuan di Aceh.  Tugas baru menularkan semangat untuk menjadikan perempuan-perempuan yang sudah berkomitmen di partai politik untuk menjadi pribadi unggul dan bisa diperhitungkan di organisasinya juga di masyarakat bahkan sampai peluang untuk menawarkan solusi.  Kalo sudah berkomitmen di partai politik, apalah lagi targetnya selain berada di legislatif  yang nantinya bisa sangat menentukan seperti apa kebijakan daerah akan dibuat.

Sayangnya, sering sekali mereka yang berkomitmen tergabung di partai politik belum sadar betul tentang perannya nanti.  Mereka cenderung dikondisikan hanya wara-wiri dalam program partai yang dominan dengan agenda pemenangan dan mempengaruhi publik dengan slogan-slogan yang tidak ramah.  Slogan yang hanya mengumbar janji, harapan semu, tanpa dilandasi realitas yang dihadapi oleh masyarakat.  Maka tidak heran, mereka yang sudah berada di legislatif, jadi terbata-bata dengan tugas yang diembannya.  Tidak punya agenda untuk memperjuangkan kepentingan masyarakatnya, bahkan tidak jarang, hanya berpikir bagaimana membayar mengembalikan investasi yang sudah diberikan orang-orang yang mendukungnya. Tentu saja dengan menuruti kepentingan para investor tersebut.  Sementara kepentingan masyarakat banyak, dimana mereka selama ini memberikan janji bahkan komitmen melalui kontrak sosial, begitu saja dilupakan.  Dalam hal menghayati tugas-tugas keseharian, yang dirasakan hanya keletihan tanpa batas, karena agenda-agenda persidangan yang merupakan hal baru dialami.  Keluhan-keluhan seperti inilah yang kerap kudengar dari para anggota legislatif di nasional maupun daerah.

Ketika perempuan dilibatkan,  tidak jarang hanya dimanfaatkan untuk meraih suara perempuan yang notebene sangat besar secara kuantitas.  Partai memanfaatkan moment atau isu yang diperjuangkan kelompok perempuan agar "PEREMPUAN MEMILIH PEREMPUAN".  Sementara menjadikan perempuan benar-benar bisa mewakili kepentingan perempuan, sama sekali tidak diperhitungkan.  Perempuan harus berjuang sendiri, untuk meningkatkan kapasitasnya dalam memahami mekanisme, prosedur kerja di dewan sampai pada membuat suara dan aspirasinya diperhitungkan di partai maupun di legislatif untuk membuat kebijakan yang pro perempuan.

Hal-hal diatas, yang membuat aku selalu ingin berbagi tentang banyak hal tentang pengalaman dan tantangan yang akan dihadapi perempuan. Juga belajar tentang bagaimana dinamika dan intrak-intrik dunia perpolitikan.  Intinya sebenanrnya sama saja, dimana pun kita berkiprah, selalu ada yang hendak diperjuangkan.  Yang membedakan adalah lingkungan seperti apa yang akan dihadapi dan bagaimana tetap konsisten berjuang bagaimana pun tantangannya. 

Minimnya dukungan partai terhadap perempuan sebagai anggota yang menjadikan perempuan juga kadang tidak semangat dan kehabisan energi.  Contohnya, undangan yang lembagaku kirimkan kepada partai agar bisa mencari kader yang perempuan untuk terlibat dalam training, sering tidak digublis. Undangan seringkali hanya sampai pada meja sekretariat, tanpa diteruskan pada kader perempuan, apalah lagi memastikan mereka berpartisipasi.  Partai seakan tidak peduli jika perempuan mau lebih berdaya.  Ketika dikonfrirmasi, jawaban klise, susah mencari perempuan yang tertarik pada kegiatan training, waktunya bentrok bahkan sampai mengatakan partai tidak ada kader perempuan.  Alamak!

Stategi yang tidak konvensional memang harus diambil jika berkaitan dengan kepentingan kelompok rentan.  Perempuan, masih menjadi kelompok rentan, baik dalam hal akses/kesempatan sampai pemenuhan haknya.  Maka aku dan lembaga harus memakai strategi paralel untuk memobilisasi partisipasi perempuan, yaitu penyadaran ke organisasi partai dan kader perempuan sendiri.  Selalu membutuhkan energi lebih untuk meng-energize perempuan berkiprah, eksis, dan bermanfaat buat perempuan lain juga lingkungannya.

Masih ada episode lain selain di Aceh, yaitu Makasar, Bali, Yogyakarta, Surabaya, Ambon. Semoga mendapat kesempatan lagi untuk menjadi ENERGIZER bagi perempuan lain di Indonesia. Amiin. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar